Read Anywhere and on Any Device!

Special Offer | $0.00

Join Today And Start a 30-Day Free Trial and Get Exclusive Member Benefits to Access Millions Books for Free!

Read Anywhere and on Any Device!

  • Download on iOS
  • Download on Android
  • Download on iOS

Sepotong Cinta di Dalam Hati ; Renungan Seorang Ayah Mendampingi Anak Autis

Dwinu Panduprakarsa
4.9/5 (25860 ratings)
Description:Buku ini menyuarakan segenap perasaan paripurna seorang ayah. Ketika penyesalan merebak tatkala terlambat menangani demam tinggi Tita, sang putri penyandang sindrom autis, nyaris ke titik nadir, sedih bercampur putus asa (h. 16-17), hingga bangkit lagi dan saling menulari semangat bersama sang istri (h. 29).Di dalamnya juga tergambarkan secara detil, bahwa mengasuh anak, entah itu anak normal maupun anak luar biasa seperti Tita, teramat sangat membutuhkan kerjasama dan kekompakan hati dan sikap dari kedua orang tua. Tidaklah dapat kita hanya menyandarkan dan mengandalkan satu pihak (biasanya istri, berlandaskan alasan sang suami sibuk mencari nafkah), sementara pihak lain bersikap tak peduli atau malah masa bodoh, karena cepat atau lambat pola pikir demikian akan merongrong perkembangan kemajuan sang buah hati.Sebagaimana anak biasa, anak luar biasa seperti Tita, ternyata unik, sehingga butuh komunikasi aktif-intensif dengan banyak ahli (dokter, terapis, ahli gizi, dan lainnya) sebelum akhirnya Dwinu dan istri memilih jenis terapi terbaik yang sesuai dengan kondisi Tita.Di tengah keterbatasan Tita, Dwinu masih bisa bersyukur, masih meluangkan waktu untuk Tita, dibandingkan dengan Dinda, sesama penyandang autis yang hanya diantar pengasuh dan sopir saat terapi, juga Dion yang secara materi berlimpah (bab “Dinda Mencari Cinta”, dan bab “Anugerah Terbaik untuk Sang Ayah”). Bagi saya, petikan kata “…kami punya selaksa cinta di dalam hati untuknya…” sangatlah dalam dan menyentuh, tepat menyuarakan isi hatinya. Demikian juga kutipan ayat Qur’an dalam surah Ar Rahman, tentang nikmat Allah mana lagi yang akan kita dustakan. Jujur saja, untuk saya pribadi, kisah Tita ini makin membuat saya untuk senantiasa introspeksi diri, sudahkah kita menabung syukur dari hari ke hari atas karunia-Nya selama ini, mungkin bahkan seharusnya dalam setiap helaan nafas kita?Dari tuturan Dwinu, kita ‘diajarkan’ sebagai orang tua / calon Orang Tua untuk belajar menerima apapun takdir yang sudah digariskan Allah, karena menyangkut sikap/penerimaan terhadap anak, sekaligus jangan pernah berhenti berdoa dan berupaya. Janganlah pernah kita berputus asa dari rahmat Allah, cukilan kalimat yang mengandung harapan plus semangat.Kisah nyata ini ditutup yang bagus, yaitu kisah tentang perkembangan Tita yang sudah bisa berkomunikasi dengan kakek-neneknya dengan baik, serta keterlibatan aktif Dwinu pada tempat terapi autis untuk kaum dhuafa.Sayangnya, pemilihan/diksi bahasa yang kurang variatif, semisal tentang memuji kebersahajaan istri (h. 36 bandingkan dengan h. 6-7) agak sedikit mengganggu. Seperti juga pemilihan judul yang – meski bagaimanapun menjadi hak ‘prerogatif’ penulis plus penerbit—menurut opini saya, justru lebih menyentuh dengan “Selaksa Cinta untuk Tita”.Juga alur kisah agak kurang sistematis atau runtun, sehingga agak membingungkan penikmatnya. Contoh, saat Dwinu menuliskan kemajuan Tita (h. 74), lalu ‘diseling’ paragraf atau bab tentang hal lain. Model kilas-balik ini dengan pengaturan alur yang sedikit kacau terus-terang agak memecah konsentrasi saya sebagai pembaca.Di sisi lain, menurut saya, surat untuk presiden SBY agak kurang klop ditempatkan dalam buku ini. Mungkin akan lebih tepat bila dibahasakan dalam gaya tutur dan harapan orang tua anak autis mengenai penyediaan fasilitas, juga akses pendidikan (dalam hal ini terapi) yang terjangkau dari pemerintah.Namun terlepas dari kekurang-kekurangan kecil di atas, buku ini kian memperkaya khasanah buku tentang anak autis. buku Dwinu lebih kaya dengan sisi manusiawi orang tua, sekaligus sisi religiusitasnya sebagai seorang muslim. Intinya, dengan membaca buku ini, banyak hikmah yang bisa kita ambil, yaitu hidup adalah penuh perjuangan, hidup identik dengan senantiasa belajar mencintai, hidup harus selalu diisi dengan harapan, doa, dan juga usaha tak kenal menyerah, karena rahmat Allah akan selalu melingkupi tiap langkah yang kita ayunkan.*Hehehehe... Kebanyakan Comment...**Baik... Untuk Dibaca para Orang Tua.. Btw.. Baca buku ini, teringat sama Murrobiyahku saat masih dikampus, yg pernah berjuang mendampingi anaknya yg sedang sakit* (http://sucilestiana.multiply.com/revi...)We have made it easy for you to find a PDF Ebooks without any digging. And by having access to our ebooks online or by storing it on your computer, you have convenient answers with Sepotong Cinta di Dalam Hati ; Renungan Seorang Ayah Mendampingi Anak Autis. To get started finding Sepotong Cinta di Dalam Hati ; Renungan Seorang Ayah Mendampingi Anak Autis, you are right to find our website which has a comprehensive collection of manuals listed.
Our library is the biggest of these that have literally hundreds of thousands of different products represented.
Pages
143
Format
PDF, EPUB & Kindle Edition
Publisher
Gema Insani Press
Release
2007
ISBN
9795601431

Sepotong Cinta di Dalam Hati ; Renungan Seorang Ayah Mendampingi Anak Autis

Dwinu Panduprakarsa
4.4/5 (1290744 ratings)
Description: Buku ini menyuarakan segenap perasaan paripurna seorang ayah. Ketika penyesalan merebak tatkala terlambat menangani demam tinggi Tita, sang putri penyandang sindrom autis, nyaris ke titik nadir, sedih bercampur putus asa (h. 16-17), hingga bangkit lagi dan saling menulari semangat bersama sang istri (h. 29).Di dalamnya juga tergambarkan secara detil, bahwa mengasuh anak, entah itu anak normal maupun anak luar biasa seperti Tita, teramat sangat membutuhkan kerjasama dan kekompakan hati dan sikap dari kedua orang tua. Tidaklah dapat kita hanya menyandarkan dan mengandalkan satu pihak (biasanya istri, berlandaskan alasan sang suami sibuk mencari nafkah), sementara pihak lain bersikap tak peduli atau malah masa bodoh, karena cepat atau lambat pola pikir demikian akan merongrong perkembangan kemajuan sang buah hati.Sebagaimana anak biasa, anak luar biasa seperti Tita, ternyata unik, sehingga butuh komunikasi aktif-intensif dengan banyak ahli (dokter, terapis, ahli gizi, dan lainnya) sebelum akhirnya Dwinu dan istri memilih jenis terapi terbaik yang sesuai dengan kondisi Tita.Di tengah keterbatasan Tita, Dwinu masih bisa bersyukur, masih meluangkan waktu untuk Tita, dibandingkan dengan Dinda, sesama penyandang autis yang hanya diantar pengasuh dan sopir saat terapi, juga Dion yang secara materi berlimpah (bab “Dinda Mencari Cinta”, dan bab “Anugerah Terbaik untuk Sang Ayah”). Bagi saya, petikan kata “…kami punya selaksa cinta di dalam hati untuknya…” sangatlah dalam dan menyentuh, tepat menyuarakan isi hatinya. Demikian juga kutipan ayat Qur’an dalam surah Ar Rahman, tentang nikmat Allah mana lagi yang akan kita dustakan. Jujur saja, untuk saya pribadi, kisah Tita ini makin membuat saya untuk senantiasa introspeksi diri, sudahkah kita menabung syukur dari hari ke hari atas karunia-Nya selama ini, mungkin bahkan seharusnya dalam setiap helaan nafas kita?Dari tuturan Dwinu, kita ‘diajarkan’ sebagai orang tua / calon Orang Tua untuk belajar menerima apapun takdir yang sudah digariskan Allah, karena menyangkut sikap/penerimaan terhadap anak, sekaligus jangan pernah berhenti berdoa dan berupaya. Janganlah pernah kita berputus asa dari rahmat Allah, cukilan kalimat yang mengandung harapan plus semangat.Kisah nyata ini ditutup yang bagus, yaitu kisah tentang perkembangan Tita yang sudah bisa berkomunikasi dengan kakek-neneknya dengan baik, serta keterlibatan aktif Dwinu pada tempat terapi autis untuk kaum dhuafa.Sayangnya, pemilihan/diksi bahasa yang kurang variatif, semisal tentang memuji kebersahajaan istri (h. 36 bandingkan dengan h. 6-7) agak sedikit mengganggu. Seperti juga pemilihan judul yang – meski bagaimanapun menjadi hak ‘prerogatif’ penulis plus penerbit—menurut opini saya, justru lebih menyentuh dengan “Selaksa Cinta untuk Tita”.Juga alur kisah agak kurang sistematis atau runtun, sehingga agak membingungkan penikmatnya. Contoh, saat Dwinu menuliskan kemajuan Tita (h. 74), lalu ‘diseling’ paragraf atau bab tentang hal lain. Model kilas-balik ini dengan pengaturan alur yang sedikit kacau terus-terang agak memecah konsentrasi saya sebagai pembaca.Di sisi lain, menurut saya, surat untuk presiden SBY agak kurang klop ditempatkan dalam buku ini. Mungkin akan lebih tepat bila dibahasakan dalam gaya tutur dan harapan orang tua anak autis mengenai penyediaan fasilitas, juga akses pendidikan (dalam hal ini terapi) yang terjangkau dari pemerintah.Namun terlepas dari kekurang-kekurangan kecil di atas, buku ini kian memperkaya khasanah buku tentang anak autis. buku Dwinu lebih kaya dengan sisi manusiawi orang tua, sekaligus sisi religiusitasnya sebagai seorang muslim. Intinya, dengan membaca buku ini, banyak hikmah yang bisa kita ambil, yaitu hidup adalah penuh perjuangan, hidup identik dengan senantiasa belajar mencintai, hidup harus selalu diisi dengan harapan, doa, dan juga usaha tak kenal menyerah, karena rahmat Allah akan selalu melingkupi tiap langkah yang kita ayunkan.*Hehehehe... Kebanyakan Comment...**Baik... Untuk Dibaca para Orang Tua.. Btw.. Baca buku ini, teringat sama Murrobiyahku saat masih dikampus, yg pernah berjuang mendampingi anaknya yg sedang sakit* (http://sucilestiana.multiply.com/revi...)We have made it easy for you to find a PDF Ebooks without any digging. And by having access to our ebooks online or by storing it on your computer, you have convenient answers with Sepotong Cinta di Dalam Hati ; Renungan Seorang Ayah Mendampingi Anak Autis. To get started finding Sepotong Cinta di Dalam Hati ; Renungan Seorang Ayah Mendampingi Anak Autis, you are right to find our website which has a comprehensive collection of manuals listed.
Our library is the biggest of these that have literally hundreds of thousands of different products represented.
Pages
143
Format
PDF, EPUB & Kindle Edition
Publisher
Gema Insani Press
Release
2007
ISBN
9795601431
loader